naat.or.id

Sunan Ampel

Raden Rahmat

Sunan Ampel, yang memiliki nama asli Raden Rahmat, merupakan pilar utama dalam penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya sebagai sesepuh Wali Songo. Lahir di Champa sekitar tahun 1401, beliau adalah putra dari Sayyid Ibrahim Asmoro Bin Sayyid Jamaluddin Al-Kabir Syekh Jumadil Kubro Bin Sayyid Al-Husain dan dari jalur ibu merupakan keponakan dari Raja Majapahit melalui ibunya, Dewi Candrawulan.

Silsilah dan Kedatangan

Raden Rahmat datang ke Jawa pada pertengahan abad ke-15 (sekitar 1443 M) bersama saudaranya, Ali Murtadho. Hubungan kekeluargaannya dengan penguasa Majapahit memberinya posisi strategis. Ia dihadiahi sebidang tanah di Ampeldenta, Surabaya, yang kemudian menjadi basis dakwahnya dan asal-usul gelar "Sunan Ampel".

Kiprah Dakwah: Pendekatan Kultural

Strategi dakwah Sunan Ampel dikenal sangat sistematis namun persuasif. Beliau tidak menentang budaya lokal secara frontal, melainkan melakukan asimilasi nilai-nilai Islam ke dalamnya.

Salah satu warisan filosofinya yang paling fenomenal adalah ajaran "Moh Limo", yang bertujuan memperbaiki moralitas masyarakat saat itu:

  1. Moh Main: Tidak berjudi.
  2. Moh Ngombe: Tidak mabuk/minum miras.
  3. Moh Maling: Tidak mencuri.
  4. Moh Madat: Tidak memakai narkoba.
  5. Moh Madon: Tidak berzina.

Kaderisasi dan Jaringan Ulama

Sunan Ampel membangun Pesantren Ampeldenta sebagai pusat pendidikan Islam pertama di Jawa Timur. Di sinilah beliau mendidik calon-calon ulama besar, termasuk putra-putranya (Sunan Bonang dan Sunan Drajat) serta muridnya seperti Sunan Giri dan Raden Patah (Sultan pertama Demak). Beliau juga berperan penting dalam pendirian Kerajaan Islam Demak sebagai kekuatan politik yang menggantikan pengaruh Majapahit yang mulai memudar. Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya, yang hingga kini menjadi pusat ziarah umat Muslim dari berbagai penjuru. (LP3SN)

NOTE :

Data lengkap Silsilah Sunan Ampel terdapat pada data base LP3SN DPP NAAT